Selasa, 23 Mei 2017

AYAH

Ayah..

Dear Anies Baswedan, Sandiaga Uno, Eep Saefullah, dan sahabat saya Pandji Pragiwaksono.

Selamat buat kesuksesan kalian dan team memenangi kontestasi pilkada DKI lalu. Apakah itu a fair win? Hati kalian yang tau.

Ahok-Djarot tidak (bisa) terpilih lagi. Mission accomplished seharusnya. Mungkin kalian cuma merencanakan sampai sebatas itu saja. Semua sah dan wajar dalam politik, kan?

Tapi sekarang Pak Ahok dipenjara. Saya tidak mau menghina intelektualitas kita semua dengan berpura2 ini tidak ada kaitannya dengan Pilkada yang baru teman2 menangkan. Mungkin Anda tidak menginginkan sampai sejauh itu, tetapi pendukung Anda jelas menginginkan dan merayakan vonis terhadap lawan politik Anda itu. Anda kencing berdiri pak, lihat akibatnya pada "murid-murid" Anda.

Saya tidak khawatir dengan kondisi Pak Ahok dipenjara, dia orang dengan mental dan integritas tiada tanding. Dia lebih cinta kota Jakarta dan rakyatnya dibanding kebebasannya sendiri. Dia akan baik-baik saja didalam. Makin langsing dan berotot saya dengar karena sering work out didalam sel. Saya tidak bisa membayangkan kalau salah satu dari Anda yang ada di posisi Pak Ahok. Terbayang demo dan intimidasi yang lagi-lagi akan dikerahkan demi membebaskan Anda tanpa memikirkan kepentingan kota dan warganya. Coba tanya diri Anda sendiri saat ini, apakah anda seberani Ahok? Sejantan Ahok? Maaf, kalau kalah saja takut, sama preman takut, apalagi dipenjara. IMHO.

Sekali lagi, saya tidak khawatir akan kondisi Pak Ahok didalam sana. Tetapi hati saya terganggu membayangkan hancurnya hati istrinya dan anak2nya. Mereka tidak memilih untuk menjalani garis perjuangan membela kebenaran seekstrim ini. Kalian semua adalah suami, dan ayah. Kalian tau rasanya terpaksa berpisah dengan keluarga. Kontestasi itu telah usai, perlukah diteruskan sikap diam kalian terhadap ketidakadilan ini? Saya masih optimis, paling tidak sahabat saya Pandji tau di hati kecilnya bahwa Ahok tidak berniat dan tidak menodai agama dan tidak seharusnya dipenjara. 
Ahok tidak bersalah, kecuali untuk satu hal: Dia berdiri diantara Anda dan kursi yang anda idam2kan. Saya harap malam ini Anda bisa menatap mata anak Anda sebelum tidur dan membayangkan kalau malam ini adalah malam terakhir Anda bisa memeluk dia. Saya juga berharap besok pagi Anda bisa dengan yakin menatap mereka dan berkata bahwa Anda akan melakukan hal benar di hari ini. 

J

Kamis, 19 Juni 2014

Aku Nomor Satu

Aku Nomor Satu

Buat yang sudah cukup lama mengikuti perjalanan karir saya mungkin sudah mengerti bahwa saya terbiasa bekerja dengan target dan standar yang “tidak biasa”. Laku tidak pernah menjadi tujuan, tapi nomor satulah yang terpenting. Kelas dan kualitas adalah patokan, kisi-kisi, bahkan kitab suci saya dalam berkarya. Ini merepotkan rekan kerja, management dan bahkan diri sendiri. Di postingan sebelum ini berjudul “Sepadankah” saya sudah bercerita tentang bagaimana proses kerja seorang perfeksionis keras kepala seperti saya ini. Nomor satu, atau tidak sama sekali. Never settle for anything but the best.
Saya selalu tergiur dan termotivasi dengan jargon “go international” sedari dulu. Lagu-lagu berbahasa Inggris tetap ngotot saya hasilkan walau sulit diterima disini karena impian bisa menembus panggung dunia dan membuat harkat Indonesia terangkat diluar sana. Bagaimana hasilnya? Masih jauh dari yang saya impikan walaupun sudah mulai ada pembuktian-pembuktian kecil yang menyemangati diri sendiri (TONITE, RISE N FALL http://playrushbros.com/the-music/). But I want more. Saya selalu berhasil dan haus untuk menemukan gunung yang lebih tinggi lagi untuk didaki.

Kemudian muncul pemilihan presiden 2014. Dengan semua karakter, filosofi, pembawaan, target, pencitraan (kalau dianggap begitu, hehe) yang melekat pada saya, pastinya mudah tertebak pasangan mana yang akan merebut dukungan saya dong? Seseorang yang cukup mengingatkan saya pada diri sendiri. Berani, kuat, tegas, cerdas, percaya diri, pandai merangkai kata dan bahkan memiliki quotes mirip dengan lagu WE ARE ONE maupun INDONESIA STANDUP saya: Indonesia bangkit, maju, macan asia, taklukkan dunia dan sebagainya.
Saya akui, he stole my attention. Anda, dan juga saya, kelas menengah Indonesia pastinya senang dengan hal-hal seperti itu. We hang out with other cool people at cool places. Kita menyelipkan istilah-istilah asing kedalam pembicaraan kita. Penampilan penting buat kita. Panas-panasan dan “blusukan” tidak ada dalam agenda Anda dan saya. So, the number one guy is our perfect option, right? 

Wrong. Think again. Kita anak muda, kita menuntut dan melakukan perubahan. Kita kelas menengah, kita dinamis dan suka cara-cara baru. Kita berpikiran terbuka, kita menyukai ide globalisasi. Kita tidak suka dikekang, tidak suka protokoler. Kita mau punya pemimpin yang mendunia tapi juga membumi sehingga dia selalu ada dalam jarak jangkau kita.
Setelah 3 minggu full melakukan riset dari berbagai literatur dan obrolan langsung dengan beberapa teman yang pernah bekerja atau berinteraksi dengan kedua calon presiden kita, saya memantapkan pilihan. Saya mau Indonesia punya pilot baru yang belum pernah punya masalah di penerbangan-penerbangan sebelumnya. Kali ini, saya mau jadi nomor 2! 

"Ga lo banget, J". Gue tau. Saya yakin sebagian kita masih ingat bahwa di PilGub DKI 2012 saya tidak mendukung atau memilih pak Joko Widodo. I wasn’t convinced. Track recordnya saya anggap biasa saja dan belum teruji untuk level ibukota. Tetapi setelah merasakan langsung sebagai warga DKI Jakarta yang setiap saat bersentuhan dengan birokrasi, fasilitas, pembangunan dan sebagainya, saya dengan fair dan obyektif bisa menyatakan pak Jokowi dan wakilnya pak Basuki sudah melakukan perubahan yang berani lewat cara-cara yang tegas.
Bisakah pak Jokowi tegas sebagai presiden? Dia kan sipil! Tahukah kamu kalau Bung Karno itu bukan dari militer? Beliau insinyur, sounds familiar?
Presiden kita saat ini seorang Jenderal. Tegas? Nilai sendiri deh :) Gubernur Jakarta yang Jenderal, yang ahli lulusan luar negeri belum pernah bisa beresin Tanah Abang dan Waduk Pluit, si kurus dari Solo bisa. Not to mention the shutdown of Stadium. Tegas, tapi tetap asih welas.
Kemampuan berbahasa Inggris? Itu bisa ditingkatkan. Belum canggih aja pak Jokowi sudah ditetapkan sebagai satu dari “World’s 50 Greatest Leaders” versi Fortune Magazine dan "Man Of The Year" majalah Globe Asia. Didalam negeripun semenjak menjabat walikota sudah menerima berbagai penghargaan atas kinerjanya. Saya bukan penggemar beliau, selera musik aja udah ga nyambung, beliau metal saya hiphop. Tapi berbicara obyektif, sebagai musisi yang ingin go international lewat karyanya, dan sebagai orang Indonesia yang sudah terlalu lama menunggu lahirnya pemimpin yang bisa saya banggakan sampai ke ujung dunia, saya berketetapan memilih pak Joko Widodo orang Solo berpenampilan “ndeso” tapi sudah berhasil menarik perhatian dan respek internasional atas kerja dan hatinya. I want to see my president’s face all over the news, magazine covers, newspaper headlines, for all the right reasons. Bukan karena masa lalunya yang diungkit-ungkit oleh negara-negara yang tidak senang, oleh bom waktu kasus-kasus bawaan pendukungnya yang diajaknya bergabung. No way! Gue ga rela kita dihina dan ditertawakan karena membesarkan macan yang salah. Usaha saya dan teman-teman musisi yang idealis membanggakan Indonesia akan sia-sia bila kita kembali ke jaman ala orba dan rezim otoriter.

Akhirnya, Saya cinta pekerjaan saya. Profesi sebagi musisi/ penghibur sudah membawa saya keliling negeri ini dan ke mancanegara. Satu hal yang saya selalu temukan, daya tahan orang Indonesia itu luar biasa. Kita melewati penjajahan, perang kemerdekaan, orde lama, orde baru (silakan digugel ya adik-adik) dan reformasi. Tapi hari ini kita masih berdiri bersatu. Kita bukan Mesir, kita bukan Suriah. Bahkan Thailand negara monokultural yang jauh lebih kecil dari kita ada dalam kondisi yang jauh lebih parah. Orang Indonesia tidak cengeng dan manja, kita mau dan siap bekerja. Maka dari itu kita butuh pemimpin yang terbukti bekerja, bukan yang berjanji akan bekerja. Mungkin dia benar berniat akan menjalankan janjinya. But we just can’t afford that risk. Negara ini sedang tidak dalam posisi sanggup berjudi. Kita harus memilih resiko terkecil, this is emergency status. Pilih yang rekam jejaknya jelas dan berjenjang: Seorang anak desa yang terus mendapatkan promosi jabatan karena DIPERCAYA. Bukan karena hubungan saudara/ keluarga dengan atasan tertinggi yang melejitkan karirnya. Ini bukan black campaign, this is fact campaign. Kita butuh pemimpin yang mengerti kebutuhan paling mendesak kita adalah Revolusi Mental, mengapa? Karena aset terbaik bangsa adalah warganya, bukan hasil alamnya. Bocor yang perlu ditambal bukan cuma bocor SDA (bukan merujuk mantan menteri) tapi juga kebocoran mental dari para pemimpin terutama muka-muka lama yang masih berseliweran sampai saat ini. Good musicians attract other good musicians to colaborate. Good music attract good crowd. Good candidate attract good people in his team. Silakan renungkan kenapa ada perbedaan tajam di karakter, rekam jejak dan kualitas pendukung masing-masing capres. Saya harap kita semua akan memilih yang benar dan terbaik di 9 Juli nanti. Tidak ada pilihan yang sempurna, pilihlah yang terbaik dari yang ada. Apapun pilihanmu, kita tetaplah saudara sebangsa yang cinta mati sama Indonesia. 

Dua. Karena satu tidaklah cukup. 
J

Kamis, 22 Mei 2014

Sepadankah?

Jumat 23 Mei, 8:54 AM

Saya baru selesai olahraga pagi setelah kemarin menghabiskan waktu total 13 jam di studio untuk mixing sebuah lagu untuk kepentingan konser solo pertama saya di 2014, #REFILL. Lagu itu nantinya juga akan masuk ke album solo ke 3 saya yang berjudul sama.
Ini sebenarnya rutinitas sehari-hari saya yang sudah dijalani cukup lama selama 10 tahun berkarir sebagai musisi penuh waktu: bangun pagi, mencari dan menuliskan inspirasi, pergi bertemu klien atau calon investor atau rekan musisi, dan masuk studio hingga jauh malam ataupun subuh.
“Is it worth it?’ atau “sepadankah semua ini?” tiba-tiba muncul di kepala saat mengangkat beban di pusat kebugaran beberapa menit lalu. Untuk sesaat beban bench press terasa meningkat 100x lipat saat memikirkan perjalanan yang sudah ditempuh hingga ke titik ini.
Mungkin banyak yang bertanya-tanya seperti apa sih proses kreatif hingga sebuah lagu bisa sampai di telinga kita. Bukankah itu mudah sekali? Tinggal santai-santai menunggu inspirasi datang, tuangkan dan selesai? I wish it could be that easy supaya saya bisa punya kerjaan sampingan meneruskan bisnis kuliner misalnya atau jadi model paruh waktu (which is impossible, and not because of time barrier, lol).
Menjadi musisi, apalagi indie, apalagi di Indonesia amatlah berat. Di negara yang industri seninya maju tantangan bagi musisi hanya soal berkarya menghasilkan sesuatu yang keren, beda dan “connect” dengan penikmatnya. Promosi memang harus diusahakan sendiri, tapi sekali lagi semua ada jalurnya yang sudah disiapkan. Kemewahan yang mereka miliki dan membuat saya iri adalah mereka hidup ditengah masyarakat yang sangat menghargai betul karya kreatif dan intelektual. Sudah menjadi budaya mereka untuk menghargai karya dengan membayar harganya. Mereka tau si pencipta butuh penghasilan untuk bertahan hidup dan bertahan sebagai pencipta serta tidak menyerah ditengah jalan dan beralih profesi menjadi agen asuransi atau MLM seperti yang terjadi pada banyak seniman yang saya kenal.
Saya beri gambaran begini: suatu pagi sebuah ide lagu datang saat saya baru bangun tidur pukul 6.00. Ide itu harus saya kembangkan. Metode favorit saya adalah “mengajak” ide itu ikut jogging bersama saya selama 30-45 menit di sekitar area tempat tinggal saya. Selama jogging ide itu mulai jelas bentuknya. Terbayang tema lagu ini apa, suasana yang mau dibangun seperti apa, lirik chorusnya seperti apa. Kembali ke rumah sambil mandi ide itu dikembangkan lagi sambil merekam berbagai versi contoh suara ke voice recorder. Pukul 8.00 saya sudah siap di meja kerja saya dengan laptop, headphones, buku dan pena. Biasanya saat ini saya sudah sibuk mengirimkan pesan atau mencoba menelpon rekan musisi/produser yang saya anggap tepat untuk diajak menggarap ide lagu tadi.
Sambil menunngu balasan mereka (setau saya 98% musisi, apalagi DJ, jarang sekali yang sudah bangun dan siap kerja dibawah jam 11 siang :p) saya mencoba dengan skill yang dibawah rata-rata ini untuk membuat draft kasar berupa beat dasar yang simple dan merekam guide vokal di laptop.
Sambil diselingi membalas email dari management soal kontrak kerja, design album, budget konser, permintaan sponsor dan tawaran interview media, saya mencoba menulis lirik lagu tersebut yang dasarnya sudah lumayan jadi.
Pukul 11 pesan teks saya dibalas. Ide saya bersambut, dan dia akan mencoba mengerjakan musik dasarnya segera. Janji bertemu pukul 15 di sebuah mall di bilangan Jakarta selatan disepakati. Draft cupu meluncur ke inboxnya. Waktunya memasak makan siang singkat dan berangkat.
Sebelum pukul 15 biasanya saya sudah hadir di tempat sesuai kesepakatan, I hate waiting but i hate being late even more. Sudah diduga kalau janjian dengan pekerja seni biasanya mereka terlambat. 30 menit kali ini, lumayan.
Pembicaraan berlangsung panjang, saling membandingkan referensi dan idepun berputar-putar mengalir bebas diseputar meja restoran yang mulai sepi. Disepakati bahwa pukul 22 ide akan dieksekusi menjadi karya di sebuah studio di bilangan Sudirman Jakarta Pusat. Antara saat itu hingga pukul 22 sudah bisa dipastikan akan terjadi traffic email, voice note dan teks yang berlimpah diantara kami.
Kira-kira setengah jam sebelum pukul 22 seperti biasa saya sudah hadir di studio untuk loading data lalu membiasakan diri dengan mood dan suasana studio, berbincang dengan operator dan menjelaskan kebutuhan rekaman kali ini. Pukul 22.30 semua sudah di posisi, proses kreatifpun dimulai.
Saya adalah orang yang bawel, presisi, perfeksionis dan banyak maunya dalam bekerja. Syukurlah rekan-rekan yang (bertahan) bekerja dengan saya sudah hafal dan maklum. Rata-rata lagu saya yang kalian dengar adalah hasil revisi dan bongkar pasang minimal 3x. Lagu Harapan dari album DreamBrave memegang rekor dengan total 7x revisi dan 4x rekam ulang beda versi. 
Mendekati tengah malam biasanya kami sudah sepakat dengan arah utama musik dari si lagu. Pekerjaan sesungguhnya dimulai dari sini: Mengisi detil-detil. Disinilah kebawelan saya yang sesungguhnya dimulai. Tidak bisa memainkan instrumen musik apapun dengan baik, tapi saya tau persis apa yang mau saya dengar dari lagu saya. Argumentasi terjadi; mereka dengan bahasa musik yang benar vs saya dengan bahasa Tarzan mengarang bebas pun tak terhindarkan. I usually win though
Mendekati pukul 2 pagi aransemen musik sudah 75% rampung, saatnya mengisi vokal sebelum pengisian detil instrumen supaya tidak ada chord atau melodi yang bentrok dengan vokal. Berbekal minum air putih sebanyak-banyaknya yang berakibat kunjungan rutin ke toilet, masuklah saya ke vocal booth. Saatnya rekan-rekan produser saya “menyiksa” saya dengan koreksi-koreksi yang saya curiga sering mereka berikan sebagai balas dendam semata.
Pukul 3.30 rekaman vokal selesai, setidaknya menurut saya. Setelah itu para pemain instrumen menambahkan atau mengurangi apapun yang dirasa perlu dilakukan.
Next is hearing session: Mendengarkan berulang-ulang. Sampai kapan? Sampai sewa shift studio habis, haha. Makanya impian saya adalah memiliki studio rekaman sendiri suatu hari. 
Pukul 4.00 sesi rekaman berakhir, semua pulang kecuali saya. Mesti bayar-bayar dulu dan menunggu data hasil rekaman dibalance dan dibounce ke harddisk. Biasanya sekitar pukul 4.30 baru saya beranjak. Sampai di rumah sekitar pukul 5.00 saya tidak bisa langsung tidur, adrenalin masih tinggi dan rasa penasaran ingin mendengar hasil kerja semalaman tak sanggup dilawan. Setelah memindahkan data dari harddisk ke laptop dan kemudian ke gadget, headphonespun dipasang dan saya mulai mengkritisi diri sendiri dan membuat catatan mental. Ini berlangsung hingga pukul 6 sekian sampai saya tertidur dan bangun kembali sekitar pukul 8 atau 9 karena biasanya sudah ada pekerjaan menanti. 
Jadi, lagunya selesai? Belum :) saya akan mendengarkannya berulang-ulang di headphones, di mobil, di rumah, di telinga orang lain yang saya todong untuk survey sampai saya menemukan kekurangannya. Setelah itu saya mulai mengirim teks pesan kepada orang-orang itu dan proses diatas diulang kembali, biasanya lebih dari sekali. Setelah itu ada proses yang tidak kalah panjang dan ribet yang bernama mixing. Lagi-lagi saya menjadi orang yang menjengkelkan di proses ini. Tapi biasanya di saat lagunya selesai mereka akan menghampiri saya dan mengakui…kalau saya memang menjengkelkan…haha..biasanya mereka akan sama puas dan bilang “bagus sih..tapi next time jangan seribet ini ya!” dan setelah itu mereka terjebak lagi.
Proses sepanjang itu, tim sekompleks itu, biaya sebesar itu. Buat apa? Untuk diunduh secara gratis dalam waktu 2 menit? Itu yang tadi terlintas di kepala.
Sedih dan sakit rasanya. 5000 rupiah per lagu atau 50-100 ribu rupiah untuk sebuah album berisi 10 atau lebih lagu yang masing2 dibuat dengan komitmen dan dedikasi seperti diatas bukankah layak? Diperparah dengan perlakuan media dan industri yang tidak berpihak kepada musisi kecuali si musisi sedang berada di puncak permintaan pasar dan bisa diperah sebanyak-banyaknya “selagi laku dijual’. Rasanya kepingin memutar balik waktu ke pukul 6 pagi dan menarik selimut melanjutkan tidur waktu ide itu datang mengetuk.
Saya bukan satu-satunya pejuang. Banyak diluar sana, banyak yang jauh lebih bagus dan mungkin bekerja lebih keras lagi dari saya. Kami hanya ingin berkarya, dan dihargai karyanya untuk menghidupi kami supaya bisa terus berkarya dan menginspirasi. Dengan mudahnya orang bisa membayar parkir di mall belasan ribu rupiah, menghabiskan secangkir kopi di gerai dengan membayar puluhan ribu rupiah, nonton film di bioskop berteman berondong jagung dan soda menghabiskan hingga seratus ribu rupiah lebih. Tapi sulit untuk menghargai hasil proses panjang seorang musisi indie, terutama yang lokal. Kami memang indie, sumber daya kami terbatas. Tapi kreatifitas dan semangat kami tak berbatas. Apakah yang tak terbatas itu akan terus menjadi tak berbalas? Sewa studio tidak bisa diganti dengan senyuman. Uang bensin dan ongkos taksi tidak bisa diganti jabat tangan. Biaya cetak cd dan sewa gedung konser tidak bisa ditukar acungan jempol. Dukung kami, dan kami akan hasilkan yang terbaik, menyediakan alasan bagi Anda untuk bangga terhadap Indonesia. Kecuali Anda ingin Indonesia selamanya dikenal sebagai eksportir handal asisten rumah tangga dan teroris serta penghasil band dan penyanyi abal-abal ala acara tv pagi itu, mulailah hargai yang bagus. Beli cdnya, pesan tiket konsernya dan koleksi merchandisenya. Saya pastikan, kekurangan kami di sisi modal sangat tertutupi oleh sisi kreatifitas kami. Mau bukti? Pesan tiket konser saya tanggal 7 Juni 2014 dan akan saya tunjukkan apa itu pengalaman menikmati musik yang sesungguhnya.

#REFILL Concert June 7 2014 Jakarta Arts Entertainment Centerfile:///Users/JFlow/Pictures/iPhoto%20Library.photolibrary/Masters/2014/05/24/20140524-034600/maps%20jflow.jpg
Tiket: jflowrighthere.com/booking atau +62818-980-890/@plus62store

Jumat, 23 November 2012

JFlow-Duniaku (My World) (DREAMBRAVE-2011)

JFlow-Duniaku (My World) (DREAMBRAVE-2011)

Singkat aja, minta komentarnya dong :)


JFlow
#LDR: Listen-Download-Respect

Minggu, 11 November 2012

Beli Kembali Negeri Ini


Tebus Indonesia Kita

Apa rasanya tinggal di rumah yang statusnya digadaikan, dan lebih gilanya lagi lo ga tau gimana cara nebusnya, berapa tebusannya dan kepada siapa lo harus bayar?
Bukan mau sok dramatis, tapi itulah yang gue rasakan hari-hari ini tinggal di Indonesia, (seharusnya) rumah kita tercinta.
Kalau ini rumah kita, kenapa ada banyak hal yang tidak bisa kita lakukan didalamnya karena katanya itu sudah bukan hak tuan rumah lagi? “Jangan sentuh meja itu, sudah dibayar si anu” atau “Jangan pakai kamar yang itu, sudah milik si itu” Ga asyik banget.

Baru-baru ini gue baca lagi bukunya John Perkins “Confession of An Economic Hitman” yang membeberkan skenario dunia barat untuk membangun kerajaan kapitalis dengan menaklukkan negara-negara seperti Indonesia, Panama, Arab Saudi, dll. Gue juga baru nonton sebuah film dokumenter karya John Pilger “New Rulers of the World” (search youtube aja, thanks to @swertemc for the tweet) yang menunjukkan betapa teganya kapitalis barat menindas negara2 berkembang untuk menjadi konsumen abadinya, dan yang lebih tega, pemimpin dan pejabat-pejabat korup di negara2 berkembang itu yang rela menjual negaranya demi profit pribadi.
Taktik negara2 maju itu sederhana, mirip dengan taktiknya drug dealer sebenarnya. Give em a ‘lil taste, and they’ll beg you for more. Mereka tau keunggulan mereka di bidang ekonomi, teknologi, pengetahuan dll, dan mereka tau karakteristik penduduk negara2 berkembang yang konsumtif dan pengekor trend. Apapun yang “hype” di barat haruslah diikuti dan ditiru. Masuklah mereka dengan menawarkan “kerjasama” bisnis saling menguntungkan. Yang awalnya “kerjasama” berubah menjadi “kamu kerja sama saya” dan kitapun terjebak dan terikat pada hutang segunung yang harus dibayar sampai entah kapan.
Siapa yang salah? Banyak. Ga akan habis kalau bahas itu. Siapa yang mulai? Nah ini seru.

Baik buku John Perkins maupun dokumenter John Pilger sama2 menunjuk pada 1 nama yang bertanggung jawab “menyambut” kapitalisme dan “menggadaikan” negara ini kepada pihak asing.
H.M Soeharto. Presiden ke-2 Republik ini sejak bertahta di tahun 1966 merobohkan semua tameng pelindung nasionalisasi yang dibangun di era Soekarno. Berbeda dengan Bung Karno yang “mendamprat” pihak asing dengan kalimatnya yang terkenal “Go to hell with your aid” atau “Terus gue harus bilang wow dengan tawaran bantuan lo??” Presiden Soeharto justru membuka lebar-lebar pintu gerbang Indonesia untuk masuknya “investasi” asing yang akhirnya menyebabkan kita semua hidup dalam rumah yang tergadai.
Bung Karno percaya walaupun berat dan lama, bangsa ini sanggup mandiri tanpa tergantung siapapun. Dia melihat bahwa kita terlalu kaya untuk berhutang. SDA kita sangat mumpuni untuk mau jadi negara semaju apapun. Tinggal kita bersabar di pembangunan SDMnya. Pak Harto berpandangan lain. Pihak asing dirangkul, proyek-proyek strategis seperti tambang, tambak, hutan, media, jalan tol dibagikan ke anak-cucu dan kroni-kroninya, dan semua yang ada diluar ring cendanapun gigit jari. Mencoba protes dan bersuara? Keselamatan jiwa Anda tidak dijamin.

Gue sih lebih kepingin punya Presiden yang berani berpidato sambil menggebrak mimbar di Sidang Umum PBB ketimbang nunduk-nunduk didepan petinggi IMF atau World Bank atau World Trade Organization.
Sekarang kita sudah terbelit hutang bergunung-gunung. There’s no such thing as free lunch. Ketika pihak asing masuk kesini tahun 60’an (mereka sampai bikin rapat besar di Jenewa dimana semua industrialis AS dan Eropa hadir) mereka datang dengan proposal kerjasama yang sangat rapi terencana. Rencananya adalah “membangun” Indonesia dengan teknologi yang mereka sudah lebih dulu punya, dan memastikan kita akan berhutang selama mungkin. Pembayaran hutangnya tidak selamanya dalam bentuk uang, tapi juga kebijakan politik luar negeri, regulasi perdagangan, bahkan posisi strategis di pemerintahan dan keberpihakan politik internasional. Itulah sebabnya selalu sangat sulit untuk Indonesia bisa berperan aktif di percaturan politik dunia. Penganut politik luar negeri “bebas aktif” yang sudah kehilangan kebebasan dan keaktifannya karena sudah dibeli oleh negara donor. pemrakarsa gerakan non blok yang memang sudah tidak bisa memihak blok manapun karena jelas sudah dibeli blok barat.
Gue kagum sama Cina. Walau banyak dibenci negara-negara lain karena arogansi dan kediktatorannya, tetapi dia ga minder sama barat. Cina punya aturan sendiri, siapapun mau berbisnis disana ya harus ikut aturan main disana. Itu baru prinsip. Cina berani menatap Amerika di matanya dan bilang “I got the ball, homie”. Kita? Ga tega gambarinnya.

Yang bisa kita lakukan apa? Lets start simple. Bantu produk lokal untuk bisa berdiri sejajar dengan serbuan brand-brand luar yang punya kontrak dengan pabrik disini dan memperlakukan karyawannya dengan tidak layak. Banyak pabrik disini (sebagian besar di Tangerang, Bekasi dan Karawang) yang memproduksi produk pakaian dan sepatu untuk Nike, Adidas, GAP dll (GAP adalah yang terbesar jumlah produksinya menurut John Pilger) dan membayar karyawannya sangat rendah, tanpa lingkungan dan fasilitas kerja yang memadai. Mereka bekerja bisa sampai 18 jam sehari saat kejar target ekspor di ruangan beratap rendah tanpa AC/ventilasi. Tidak boleh ambil libur, dan tidak pernah diberitahu hak-haknya oleh perusahaan. Serikat buruh disinipun belum sekuat dan disegani seperti di Eropa misalnya. Bayangkan, untuk sepasang sepatu lari seharga Rp.1.299.000 pengerjanya hanya dibayar kurang dari Rp.30.000 perhari.
Seandainya brand-brand lokal bisa sebesar mereka. Jutaan pekerja bisa tertampung, dan bekerja untuk sebangsanya sendiri dan gue berharap akan diperlakukan jauh lebih baik dari sebelumnya. Asal lo tau, sebagian produk-produk internasional, termasuk yang lo beli saat lo jalan-jalan diluar negeri, dibuat di Indonesia oleh buruh saudara2 sebangsa kita yang dibayar sangat murah. Ayo besarkan karya-karya lokal, paksa dunia membeli produk kita karena kita bagus! Ayo tebus lagi bangsa kita supaya anak-cucu bisa lahir di negara tak berhutang. Gue ga munafik, gue juga masih punya dan akan tetap membeli produk-produk brand luar karena faktor kebutuhan. Tapi gue juga sudah mulai untuk memprioritaskan produk lokal, dan selalu berusaha bantu mempromosikan produk lokal. Jangan bangga membabibuta dengan nasionalisme sempit. Bangga jadi lokal bukan berarti lo diharamkan menggunakan bahasa Inggris/asing. Realistis aja, 1 planet ngomong pakai bahasa itu. Justru kita taklukkan mereka dengan bahasa mereka sendiri. I’m Indonesian, man! And I’m proud J

PS: Shoutout to Indonesian women: You are the best!!

Sesuatu untuk dilihat: http://bit.ly/EFAproject28

Senin, 27 Agustus 2012

Kolaborasik


Kolaborasik

Sepertinya tulisan gue kali ini akan lebih panjang dari biasanya, silakan bersiap-siap, atau tutup aja windownya dan cari hal lain yang lebih menarik J

Siapa yang sudah lihat video E.F.A Project yang baru diunggah tepat pukul 00.00 tadi malam? Silakan lihat dulu bagi yang belum: http://bit.ly/EFAPROJECT
Ada link beritanya juga:

Mungkin bagi beberapa atau bahkan banyak orang hal diatas tadi biasa saja, tidak ada yang istimewa. Sekumpulan musisi ngumpul terus rekaman bareng, “lah emang udah kerjaannya bukan?” “Terus gue harus bilang “Wow kau membuatku..Wow gitu?”
Buat gue project tadi adalah sesuatu yang besar, bahkan terbesar dalam perjalanan karir yang memang belum seberapa ini. Sebelumnya lo harus ngerti dulu bahwa sebagian besar musisi yang terlibat di E.F.A Project adalah idola-idola dan pahlawan-pahlawan musik gue. I grew up listening to and wanna be like them. Bayangkan menggilanya perasaan gue saat masuk ke studio dan bekerja bareng para idola gue tersebut dan membantu mereka menyanyikan lagu yang gue tulis. Tidak ada kata yang benar-benar pas menggambarkan isi hati gue saat itu. Ini lebay tapi asli.
Sejak mengawali karir gue sebagai bagian dari Saykoji di 2003, sampai mulai bersolo karir di 2004, mengeluarkan album pertama (Facing Your Giants) di 2008, gue selalu berusaha mengerjakan semuanya sendiri. Dari memanajeri diri sendiri, menulis lagu sendiri, menentukan konsep album sendiri, sampai mencari investor sendiri untuk album karena tidak mau dibatasi oleh cara pikir label yang gue anggap bisa membatasi kreatifitas gue sebagai musisi.
Hasilnya? Hmm, coba gue Tanya berapa banyak yang punya album pertama gue? Hmm, yang tau deh? Ga banyak kan, hehe ya iya orang gue tau persis kok angka jualannya berapa. Target album sebagai perkenalan diri gue sebagai musisi yang “beda” kepada masyarakat musik Indonesia sedikit banyak tercapai. Target gue untuk bisa beli rumah…err, masih jauh banget :p

Kemudian datanglah hari itu dimana gue menerima sms yang gue sangka adalah practical joke norak dari salah satu teman gue yang sok mengaku sebagai Tohpati, produser bertangan dingin dan salah satu gitaris kenamaan negeri ini, yang mengajak gue berkolaborasi dengan salah satu artis penyanyi yang sedang ditanganinya. Singkat cerita gue mengerjakan bagian gue di lagu itu, dan Tohpati memberi kebebasan penuh untuk mencoba ide-ide gue di lagu itu. Pengalaman pertama bekerjasama dengan seorang musisi-produser kaliber nasional. Hasilnya? Lagu Nuansa Bening sukses melahirkan Vidi Aldiano sebagai penyanyi solo pria yang kemudian menjulang namanya.
Gue belajar banyak hal dari proyek kolaborasi ini. Secara mainstream, guepun mulai dikenal orang. Sebuah bonus menyenangkan setelah single Kuada Bagimu dari album FYG gagal ditayangkan klipnya di acara TV pagi-pagi itu karena tersandung masalah liriknya yang sebagian berbahasa Inggris walaupun mendapatkan radio chart dan airplay cukup tinggi (hela nafas)
I guess it was the right song at the wrong time.

Setelah kolaborasi dengan Vidi, guepun mulai “ketagihan” dengan yang namanya kolaborasi. Mulai dari kolaborasi dalam bentuk rekaman (Cindy Bernadette, Barry Likumahuwa Project, YES Band, Pandji, Titi DJ, Bayu Risa, Lea Simanjuntak, NSG Star, Alfred-Christmas Project) sampai on stage collaboration (Afgan, Pasto, Tohpati, Kirk Whallum, Bubugiri, Mike’s, Pandji, Rossa, Julia Perrez, Kotak, Beniqno, Ungu, EndahnRhesa, Kua Etnika, Kunokini, Ras Muhamad, Saykoji, Iwa K, Lala Suwages, Glenn Fredly, Tompi-maaf kalau ada yang ga kesebut)
Guepun akhirnya menyadari bahwa I’m a team player. Semua olahraga yang pernah gue coba dari kecil, pada akhirnya yang gue suka dan bertahan sampai sekarang hanyalah olahraga tim. Begitu juga dalam bekerja di musik. Bahkan saat mengerjakan materi albumpun, terutama album kedua (Dreambrave, 2011) gue sangat melibatkan tim musisi untuk mengaransemen lagu-lagu yang gue tulis. This is what I love doing and this is what I’m good at.

Sayangnya, positioning gue sebagai rapper membuat ruang gerak gue terbatas. Orang-orang, termasuk di industri musik, masih hanya melihat gue sebagai “rapper” saja yang hanya bisa “ngerap” dan menulis lirik. Mereka lupa bahwa setiap reff/chorus yang bisa dinyanyikan di semua lagu gue adalah hasil buatan gue yang buta instrumen ini. Kesempatan mengembangkan potensi terbuka ketika datang tawaran dari sahabat gue Irwan “Opung” Simanjuntak, salah satu produser musik bertangan dingin yang menangani Project Pop, Glenn Fredly, Rio Febrian dll, untuk membantu dia mengerjakan beberapa lagu milik sekumpulan remaja pria yang menamakan dirinya SM*SH. Sebuah tawaran beresiko, karena gue berdekatan dengan komunitas yang rupanya tidak terlalu bersemangat dengan apa yang dilakukan ketujuh remaja itu, tapi gue sebagai musisi pecinta kolaborasi tanpa ragu mengiyakan tawaran itu. Kerjasama itu berlanjut dengan proyek selanjutnya, 7iCONS dan ketika gue menulis lagu untuk girlband anyar, BEXXA. Jujur, gue sangat menikmati sesekali berada di belakang layar dan membiarkan ide-ide gue menyatu dengan kreatifitas artis yang sedang bekerja bersama gue. The best feeling in the world, right after performing on stage. Bocoran: Gue baru saja selesai menulis dan memproduseri calon single terbaru Cindy Bernadette, judulnya “You Make Me Feel”, gue kerjain bareng Dennis Nussy dan Mo Charizma dari Zero One.

Balik lagi ke E.F.A Project, ini adalah kolaborasi paling ideal. Bekerja bersama orang-orang paling hebat dan paling asyik seIndonesia? Siapa yang sanggup  menolak! Melihat dari dekat para jenius bekerja dengan brilian, gokil sob.
Project ini makin meyakinkan gue bahwa: Gue ga perlu punya lagu yang sangat laku, gue mau punya lagu yang memberi pengaruh. Gue ga perlu punya album yang laku jutaan keeping, tapi gue mau punya album yang menyentuh jutaan hidup. Gue ga perlu ada di TV setiap pagi dilihat orang banyak, tapi gue mau ada disana saat Indonesia butuh karya yang berdampak.


PS: Untuk semua sahabat di E.F.A Project: Gue makin “ngefans” sama kalian J
       Untuk Indonesia: Terima kasih untuk inspirasinya, setiap hari.
       Untuk yang baca: Kok betah sih? Ini panjang lho..